WebProNews update

October 22, 2009 arakattack Leave a comment

I received newsletter from WebProNews, and that is so interesting..
WebProNews banner

Categories: English, Ordinary Life

4shared.com is hacked

September 13, 2009 arakattack Leave a comment

I am intended to upgrade my HTC Cruise with latest WM6.5 cooked ROM. I usualy use PDAVIET ROM. When I tried to get the file on http://www.4shared.com/file/130177242/205cf4fa/HTC_POLARIS_-_PDAVIET_ROM_WM65__Core_23041__by_T2M.html, the website is redirected to abcjardins.com/Hacked…

So silly..

Categories: Uncategorized Tags:

HTC Touch Cruise (Polaris) make over

September 6, 2009 arakattack Leave a comment

Android-Hero-Mix-Black-Theme

Android-Hero-Mix-Black-Theme

I am so exciting installing google android on my HTC Touch Cruise (Polaris). It’s android hero specialist designed for HTC devices. I feel like having a new mobile phone just by installing android on it. But for the time being, Camera, WiFi, Bluetooth are unusable. No problem, i rare to use them.

Repotnya mengurus IT Holding Company

September 3, 2009 arakattack Leave a comment

Banyak pendapat di forum- forum mengenai departemen IT (tepatnya orang- orang IT) dalam perusahaan yang digambarkan sebagai karyawan jutek, arogan, sok pinter dsb seperti kutipan berikut…

Sebelumnya diposting oleh [kudanil`montok] Lihat Posting
ah di kantor gue juga gitu..
emang anak2 IT nya ngga sombong/arogan.. dalam bergaul juga asik2 aja..
tapiiiii… kalo udah diminta bantuan.. duilee.. susahnya setengah mampus.. kayanya gak mao turun tangan buat handle hal2 yg mungkin “kecil” buat mereka.. tapi buat yg ngga berhubungan dengan IT adalah “besar”.
Apa orang2 IT menganggap diri mereka lebih pinter jadi gak mao turun tangan ngebantu hal2 “kecil” ??
apa ngga inget ya sebelom sepinter sekarang mereka juga sama aja sebego kita2 yg gak bersentuhan dengan IT.

Jujur aja.. gue sebagai marketing.. kalo ada masalah program minta tolong orang IT rasanya susah banget.Kalo gue bisa dan ngerti gue juga gak bakal minta tolong orang IT.. tapi kalo nanti gue selesein sendiri tau2 tambah kacau.. siapa yg marah2 ??
lagh pan kerja situ bagian IT.. kalo ada yg ga beres kan kerjaan elo.. digaji buat apaan ? duduk2 doang depan monitor ?
Lagian kalo semua orang ngerti masalah IT dan ga perlu minta tolong orang IT.. semua orang juga bisa jadi orang IT donk..

semua orang pintar pada bidangnya.. jgn terlalu arogan kalo lebih pinter di bagian IT doang..
coba aja kalo gue tanya marketing konsep.. 4P segala.. dalil2 marketing.. maintain customer.. bikin proposal.. bernegosiasi dengan client.. apa mereka bisa ? buat gue hal2 tersebut adalah hal2 “kecil”..

Hehee.. ya gak salah juga sih pendapatnya.. Tapi ada baiknya jika kita kupas dari sisi sebaliknya.

Mengurusi IT di sebuah enterprise tentu bukan hal enteng, ukuran keberhasilan teknis kan dari semakin sedikitnya masalah yang muncul yang menyebabkan gangguan operasional, semakin sedikit masalah berarti IT dept sudah mampu menjalankan pekerjaan dengan sempurna. Ini bukannya terbalik? Apakah programmer yang terlihat bersantai itu salah? karena coding & debugging sudah final? Apakah IT admin lontang- lantung itu salah? karena semua system berjalan dengan baik? Atau lebih baik ada masalah yang berlanjut agar terkesan sibuk? Jadi, memang benar bahwa semua pekerjaan memiliki cara tersendiri untuk diukur.

Ya memang dilema, karena jika operasi berjalan dengan mulus, dept IT akan dilupakan, tidak exist dan tidak dirasakan ada gunanya sama sekali. Malah untuk manajemen konservatif bisa memicu review kinerja departemen tersebut. Ironis ya? Istilahnya gini: “Wah, sialan kita sudah bayar gaji buta untuk orang- orang itu! Coba direview apa masih perlu ada departemen itu…” Saya yakin, hal ini pasti pernah terjadi di mana- mana.

Seringkali IT Dept bekerja dengan jam kerja terbalik atau double shift untuk perawatan server atau peralatan lainnya agar selalu dalam kondisi prima. Instilah “WE WORK WHILE YOU SLEEPING” itu memang benar- benar nyata terjadi. Dan IT itu kan identik dengan kerja 24/7 tanpa uang lembur… cuti pun sering hangus karena terpaksa harus standby. Libur si libur tapi hp jangan mati ya…. hehe.

Dalam kasus sehari- hari departemen IT seringkali menjadi kambing hitam, kesalahan user pun sering dilimpahkan ke orang IT, barangkali dianggap dukun ya heheheh… contoh: User tidak bisa menggunakan aplikasi Office, minta bantuan ke IT… hehe padalah orang IT juga belum tentu bisa ngetik di MS Word lho… jadi kalo ditanya ya mesti cari jawabannya bareng- bareng dan harus mencoba, bukan berarti sama- sama pakai komputer trus urusannya juga sama.. komputernya orang IT belum tentu ada aplikasi officenya, yang ada aplikasi web development, remote management, database management, software development dan semua Tools untuk IT operation. Celakanya kalo sudah pakai komputer trus jadi urusan IT!

Soal perilaku orang IT yang digambarkan sedemikian rupa itu ya memang biasanya sudah dari sananya. Orang yang menyukai pekerjaan ini jika ditest kepribadian hasilnya rata- rata sama: yaitu golongan Conscientious, yang memiliki ciri- ciri: suka berpikir, suka berhitung, serius, tidak suka berinteraksi, tertutup yang akhirnya menjadi seperti arogan dan sombong, lebih parah lagi berkembang dicap sebagai exclusive. Salah siapa ini? Karena jika tidak seperti ini tidak terlalu cocok, masa orang IT orangnya ember? ya kan lucu, orang kerjaannya sarat dengan rahasia perusahaan? rahasia orang malah! Ya mau gimana lagi? kecuali jika IT yang dimaksud itu adalah tukang komputer, ya beda lagi urusannya.

OK, untuk mengurusi IT di sebuah perusahaan besar memang butuh pengalaman yang matang dan tentunya skill yang bisa didapat dari pendidikan atau dari komunitas dan selain itu juga butuh ketenangan. Yang utama adalah departemen IT harus dijalankan menggunakan ITSM (IT Service Management) yang merupakan bagian dari ITSP (IT Strategic Planning), diantaranya adalah:

  • 1. harus ada IT policy, aturan mengenai segala sesuatunya (SOP, SLA, Disclaimer, dll)
  • 2. harus ada kerjasama yang baik dengan departemen terkait. misal dengan hrd tentang training dan standar, dengan facility manager tentang peralatan, dengan operasional mengenai SOP, dengan finance mengenai budget, dan seterusnya.
  • 3. untuk perusahaan yang beragam jenis usaha, seorang IT manager harus bisa menyederhanakan konsep IT, walaupun sangat berat, menyeragamkan system mutlak harus dicoba sebisa mungkin, menyeragamkan hardware dan diharapkan menstandarkan pengetahuan user.

Keep IT Simple! Capailah kondisi paling stabil, dan pertahankan. Paling nanti bisa tertawa jika ada user yang nyeletuk gini: “Wah, kok masih pake windows XP mas? kan sekarang sudah windows vista, malah windows 7 lho! Kuno ya..” Hehe ya itu contohnya, gak tau tapi sok tau… jawab aja gini: “Oh ya, apple saya di rumah quad boot sekaligus, jadi kalo dihidupin semua windows, Linux dan Mac OS jalan semuanya! Masalahnya perusahaan ini bukan rumah saya, yang kalo ada malfunction tidak rugi..” Kadang user tidak pernah tau perhitungan tersebut, orang gara- gara user kurang familiar dengan software tertentu saja bisa merogoh kocek perusahaan untuk mengadakan training? apalagi ditambah dengan kerusakan system yang kurang stabil?

Kesimpulannya, manajemen IT sebetulnya tidak jauh beda dengan manajemen lainnya, ya sama- sama manajemen. Jika dimanage dengan baik tentunya menghindari dispute, yah apesnya paling masalah subyektif like and dislike, kalo itu sih urusan lain… hehe

Categories: Indonesian, Pekerjaan Tags:

IQ vs EI

August 23, 2009 arakattack Leave a comment

IQ adalah alat ukur kecerdasan, sangat populer sehingga orang yang ber IQ tinggi mendapatkan keistimewaan seperti: mudah memilih sekolah mana saja yang mereka inginkan, selalu mudah mengerjakan soal ujian, dianggap pandai dsb.

Di dalam organisasi, pada umumnya keahlian individu dibagi ke dalam 3 kelompok, yaitu:

  • Keterampilan teknis murni, seperti: akunting, perencanaan bisnis, sistem operasi.
  • Keterampilan kognitif, seperti: pemikiran analisa
  • Keterampilan emosi, seperti: ketenangan dan keterampilan relasi (humas)

Menurut Daniel Goleman dalam bukunya yang mengupas kepemimpinan berdasarkan kecerdasan emosional menyebutkan bahwa dalam sebuah riset, ditemukan bahwa perhitungan perbandingan keterampilan teknis dan kognitif (pengganti ukuran IQ) dengan kecerdasan emosi dalam unsur yang membedakan pemimpin yang menonjol, ternyata mengungkapkan bahwa kecerdasan emosi memainkan peran yang semakin penting di tingkat organisasi yang lebih tinggi. Sedangkan IQ tidak terhitung penting!

Artinya, kecerdasan seseorang tidak menjadikan seseorang bisa menjabat suatu posisi penting dalam suatu organisasi apabila dia tidak mampu menggunakan kecerdasan emosinya.

Lalu, apakah untuk menjadi seorang pemimpin bisa hanya dengan orang ber IQ rendah? Tentu saja tidak demikian, untuk menjadi seorang pemimpin, minimal diperlukan IQ rata- rata yaitu 110 atau 120, seorang yang lulus SMU pun sudah layak menjadi pemimpin apabila memiliki pengetahuan di bidangnya, atau memiliki rekan/ staff/ team yang ahli di bidang usaha tersebut.

Perbandingan tersebut bervariasi berdasarkan bagaimana cara mengukurnya tetapi secara rata- rata berdasarkan research angka tersebut menunjukan 80- 90% kecerdasan emosi dimiliki oleh seorang pemimpin yang menonjol. Menonjol dalam hal ini adalah disangkutkan dengan keberhasilan memperoleh laba dan menjaga masa depan perusahaan seperti: pelanggan yang loyal, karyawan yang loyal, kesejahteraan yang baik, penghargaan yang baik dan sebagainya.

Lalu, mengapa semua pegawai harus mengantongi ijasah perguruan tinggi untuk bekerja? Ya tentu saja untuk menjadi pemimpin harusnya sudah pernah menjadi bekas anak buah bukan? Sedangkan anak buah kan harusnya ber IQ tinggi, lulus sekolah dengan memuaskan, terampil terhadap pekerjaannya. Kan lebih OK jika EI yang tinggi dibekali dengan keterampilan yang mengangalkan IQ tinggi juga dikuasai, supaya bisa jadi contoh hehehhe….

Fokus ke pemecahan masalah, bukan ke masalahnya!

August 20, 2009 arakattack Leave a comment

Kelihatannya picisan, tapi itu penting untuk kita sadari bahwa kecenderungan manusia berpikiran kompleks. Entah kenapa, apakah karena kurang percaya diri? Atau terlalu percaya diri? Entah apapun alasannya tetapi ini sering terjadi di kehidupan sehari- hari, terutama dalam organisasi besar. Coba simak kasus berikut yang sering diperbincangkan di mana- mana.

Sebuah pabrik sabun sering mendapat pengaduan bahwa sering ditemukan kemasan kosong. Tentunya ini sangat menjengkelkan konsumen bukan? Karena seringnya, akhirnya manajemen membuat rapat yang membuahkan kesepakatan bahwa di akhir produksi dipasanglah alat pemindai x-ray sebelum kemasan disegel. Dengan sinar X sangat mudah diketahui bahwa kemasan masih kosong sehingga proses segel bisa dibatalkan. Dengan bantuan alat yang cukup mahal tersebut proses pengemasan berjalan dengan sempurna dan tidak lagi ada keluhan pelanggan.

Di perusahaan yang lain, menemukan masalah yang sama. Tapi langkah yang diambil sangat berbeda. Pada proses akhir kemasan sebelum disegel, dipasangkanlah kipas angin yang mampu menerbangkan kemasan yang kosong agar keluar jalur penyegelan dan kemasan kosong tersebut kembali ke depan untuk digunakan kembali untuk sabun yang lainnya.

Kasus lainnya:

Astronot Amerika ketika akan menjalankan misi di antariksa melakukan persiapan diantaranya peralatan tulis (Alat tulis kantor). Ditemukan kendala bahwa jika kita menggunakan ballpoint biasa, ada kemungkinan bocor dan terbang ke seluruh ruangan hampa udara. Tentunya itu bisa membahayakan misi walau hanya tinta bocor. Solusinya adalah membuat pena anti bocor dan bisa menghadap ke bawah walau dalam keadaan melayang di hampa udara. Riset tersebut berhasil dengan sangat memuaskan walaupun menghabiskan biaya lumayan.

Beda lagi dengan kosmonot rusia, mereka cukup menggunakan pensil! Toh tidak akan bocor, dan hanya dipakai untuk menulis saja kan? toh nanti akan diketik ke komputer bukan?

Intinya, coba kita sederhanakan masalahnya agar solusinya pun sederhana. Fokuskan kepada penyelesaian masalah, bukan pada masalahnya. Walaupun biasanya sulit, patut diingat… Sederhanakan masalah!

CentOS Linux Project In Trouble

August 2, 2009 arakattack Leave a comment

The cyberciti linux admin blog headline was so socking me that “CentOS Linux Project In Trouble”. And I was so nervous since we have lots of CentOS servers up and running. It’s not funny when it will be unavailable in the future. But i then received update that the issue was resolved. See the post below.

CentOS is a community-supported, freely-available operating system based on Red Hat Enterprise Linux. Lance Davis created CentOS and now he goes absent without leave. In an open letter from his fellow CentOS developers:

You have long promised a statement of CentOS project funds; to this date this has not appeared. You hold sole control of the centos.org domain with no deputy; this is not proper. You have, it seems, sole ‘Founders’ rights in the IRC channels with no deputy ; this is not proper.

I just hope that Lance gets back to his fellow developers and gets things sorted out for all of us. This is concerning as we’ve large number of servers deployed using CentOS. It gets more interesting:

Lance vanished from the project some time in 2008. Everybody needs time off from projects from time to time, so there was no real need to worry about that. What there was to worry about is the following: Lance is the only one, who can make active changes to the centos.org domain, as he “owns it”. Nobody else in the team is able to add nameservers, for instance. Recently he put an anonymizing service on the domain, so that nobody from the outside can see who that domain belongs to.

The third thing – and that is the one which hurts me the most – is that Lance is the one who has access to the Google AdSense and the Paypal accounts, again without a backup. We have asked for overviews of the accounts several times now and haven’t gotten back any answers. This money was donated towards the project and could have been used for professionally made media for fairs and conventions, professionally made advertisement material for the same, hardware, community support (give out media to people who want to show off CentOS) and so on. To make it clear: Nobody in the CentOS team wants to make money off the project, we all have jobs and do CentOS in our free time.

If he’s disappeared, how they are going to move all servers and domain? May be Lance can keep money and handover domain, IRC admin access to his fellow developers. What do you think?

Update (Aug-1-2009): Long Live CentOS

From CentOS.org:

The CentOS Development team had a routine meeting today with Lance Davis in attendance. During the meeting a majority of issues were resolved immediately and a working agreement was reached with deadlines for remaining unresolved issues. There should be no impact to any CentOS users going forward.

The CentOS project is now in control of the CentOS.org and CentOS.info domains and owns all trademarks, materials, and artwork in the CentOS distributions.

CentOS is not dead or going away. The signers of the Open Letter are fully committed to continue the CentOS Project. Updates and new releases will continue.

Most of the Issues have been resolved, there is an action plan with agreed upon dates for any outstanding issues.

Categories: Working environment Tags:

Balanced Scorecard, sebuah metode ampuh dalam penilaian kinerja perusahaan

August 1, 2009 arakattack Leave a comment

Balanced Scorecard adalah alat perencanaan strategik yang sangat berdaya untuk meningkatkan kemampuan organisasi dalam melipatgandakan kinerja keuangan berkesinambungan. Diciptakan oleh professor Dr. Robert S. Kaplan dan Nolan-Norton.

Implementasi Balanced Scorecard sebagai alat perencanaan strategik pada hakikatnya menuntut perubahan secara radikal gaya manajemen (management style) yang meliputi: perubahan alat (toolset), perubahan pengetahuan manajemen (skillset), dan pergeseran sikap mental (mindset). Sebagai alat perencanaan, Balanced Scorecard dilandasi oleh falsafah perencanaan yang fit dengan jamannya dan diisi dengan pengetahuan manajemen yang dilandasi dengan paradigma manajemen baru.

Vincent Gaspersz, seorang ahli yang kompetensinya telah diakui secara nasional maupun internasional, akan membahas secara tuntas: – Empat Perspektif dalam Balanced Scorecard
- Penetapan Target dan Program Peningkatan Kinerja
- Langkah-langkah Implementasi Sistem Manajemen Balanced Scorecard
- Contoh Kasus Implementasi Sistem Manajemen Balanced Scorecard pada Organisasi Bisnis
- Implementasi Balanced Scorecard pada Organisasi Pemerintah
- Integrasi Program Six Sigma dengan Balanced Scorecard

Pengukuran dalam Balanced Scorecard dibagi kedalam empat perspektif : Pelanggan, Proses Bisnis Internal, Pembelajaran dan inovasi, dan prespektif finansial.

Ukuran tersebut merupakan indikator yang sangat komprehensif untuk menjaga posisi dan kelangsungan masa depan perusahaan.

Perspektif pelanggan menggunakan ukuran berapa nilai yang diberikan kepada pelanggan dilihat dari segi waktu, kualitas, performansi dan layanan, dan biaya. Contohnya ukuran kecepatan waktu mulai dari permintaan sampai dengan pengiriman sampai ditangan pelanggan, tingkat kepuasan pelanggan terhadap produk kita, tingkat penjualan terhadap produk baru, dan atau banyaknya service call yang dilayani.

Pada perspektif internal dapat mengevaluasi ekspektasi yang diharapkan pelanggan dapat terpenuhi melalui perbaikan proses di internal organisasi tersebut. Disini juga kita dapat mengukur tingkat keahlian dan produktifitas karyawan, kualitas yang dihasilkan oleh organisasi tersebut, dan atau sistem informasi yang baik yang berjalan dalam organisasi.

Dari sisi perspektif inovasi dan pembelajaran dari suatu organisasi kita dapat mengukurnya melalui, peningkatan dan inovasi yang berkelanjutan terhadap produk-produk yang dimiliki. Kita harus garis bawahi bahwa produk disini tidak selamanya berupa barang, pelayanan dan hal-hal lain yang bersifat jasa pun adalah produk. Ukuran yang diberikan antara lain banyaknya produk-produk baru yang dihasilkan dan persentase kebrhasilan penjualannya, tingkat penestrasi terhadap market baru, atau implementasi SCM (supply Chain Management).

Apabila target-target diatas dapat terpenuhi maka efeknya akan mengimbas pada perspektif finansial juga. Selain pengukuran standar di finansial, pendekatan lain juga dipakai seperti perbadingan profit margin dengan kepuasan pelanggan. Pertumbuhan profit, pertumbuhan asset, komposisi permodalan, likuiditas juga dinilai dengan cermat.

Norton dan Kaplan menempatkan BSC sebagai alat bagi organisasi (termasuk yang berasal dari sektor publik dan non-profit) untuk mengelola kebutuhan pemegang saham relevannya. Lebih jauh mereka menyarankan BSC sebagai alat untuk memperbaiki aliran informasi dan komunikasi antara top eksekutif dan manajemen menengah dalam perusahaan. BSC ingin memperbaiki sistem konvensional pengontrolan dan akuntansi dengan memperkenalkan fakta lebih kualitatif dan non-finansial. Pertimbangan sasaran finansial serupa dengan sistem tradisional manajemen dan akuntansi. Satu perbaikan penting dari BSC terletak pada fokusnya mendorong nilai bagi profitabilitas masa depan perusahaan. Perspektif pasar bertujuan mengidentifikasi segmen pelanggan dan pasar relevan yang berkontribusi pada sasaran finansial. Dalam istilah manajemen barbasis pasar dari perusahaan, dimensi ini membuat mampu mencapai proses- proses dan produk internal yang sejalur dengan keperluan pasar. Dalam dimensi internal processes, perusahaan harus mengidentifikasi dan menstrukturkan secara efisien proses- proses pendorong nilai internal yang vital terkait dengan sasaran pelanggan dan pemegang saham. Perspektif organizational development akhirnya mencoba menggambarkan semua aspek terkait dengan staf dan organisasional yang vital pada proses reengineering organisasi.

Kata kuncinya adalah Balanced Scorecar menjawab pertanyaan bagaimana menjaga masa depan perusahaan.

Six Sigma dalam manajemen

July 28, 2009 arakattack Leave a comment

Apakah anda pernah mendengar dalam sebuah rapat manajemen dan topiknya mengenai bagaimana meningkatkan kualitas pelayanan? Mulailah bermunculan definisi mengenai apa itu kualitas dsb, panjang lebar perdebatannya termasuk bagaimana tata cara yang harus dilakukan demi berorientasi kepada kepuasan pelanggan.

Setelah panjang lebar, ternyata yang dibicarakan adalah Six Sigma.

Six Sigma adalah usaha yang terus menerus untuk mengurangi pemborosan, menurunkan variansi dan mencegah cacat. Six sigma merupakan sebuah konsep bisnis yang berusaha untuk menjawab permintaan pelanggan terhadap kualitas yang terbaik dan proses bisnis yang tanpa cacat. Kepuasan pelanggan dan peningkatannya menjadi prioritas tertinggi, dan Six sigma berusaha menghilangkan ketidakpastian pencapaian tujuan bisnis.

Di dalam metodologi, Six Sigma memiliki prinsip yang sama pada majamenen yaitu POAC (Planning, Organizing, Actuating and Controlling). Sedangkan Six Sigma merupakan pendekatan menyeluruh untuk menyelesaikan masalah dan peningkatan proses melalui fase DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). DMAIC merupakan jantung analisis six sigma yang menjamin voice of costumer berjalan dalam keseluruhan proses sehingga produk yang dihasilkan memuaskan pelanggan.

  • Define adalah fase menentukan masalah, menetapkan persyaratan-persyaratan pelanggan, mengetahui CTQ (Critical to Quality).
  • Measure adalah fase mengukur tingkat kecacatan pelanggan (Y).
  • Analyze adalah fase menganalisis faktor-faktor penyebab masalah/cacat (X).
  • Improve adalah fase meningkatkan proses (X) dan menghilangkan faktor-faktor penyebab cacat.
  • Control adalah fase mengontrol kinerja proses (X) dan menjamin cacat tidak muncul.

Lalu, bagaimana dengan Total Quality Management (TQM) yang menggunakan ISO 9000? Ini menariknya, sering kali ketika kebanggaan bersertifikat ISO itu luntur begitu saja lantaran kita tidak merasakan dampak dalam usaha yang tengah digeluti.

beberapa kelemahan yang muncul pada pelaksanaan Total Quality Control yaitu:

1. Terlalu fokus pada kualitas dan tidak memperhatikan isu bisnis yg kritikal lainnya
2. Implementasi Total Quality Control menciptakan pemahaman bahwa masalah kualitas adalah masalahnya departemen Quality Control, padahal masalah kualitas biasanya berasal dari ketidakmampuan departemen lain dalam perusahaan yg sama
3. Penekanan umumnya pada standar minimum kualitas produk, bukan pada bagaimana meningkatkan kinerja produk

Six Sigma dalam pelaksanaannya menunjukkan hal-hal menjadi solusi permasalahan di atas:

1. Menggunakan isu biaya, cycle time dan isu bisnis lainnya sebagai bagian yg harus diperbaiki
2. Six sigma tidak menggunakan ISO 9000 dan Malcolm Baldrige Criteria tetapi fokus pada penggunaan alat untuk mencapai hasil yg terukur
3. Six sigma memadukan semua tujuan organisasi dalam satu kesatuan. Kualitas hanyalah salah satu tujuan, dan tidak berdiri sendiri atau lepas dari tujuan bisnis lainnya
4. Six sigma menciptakan change agent yg bukan bekerja di Quality Department. Green Belt adalah para operator yg bekerja pada proyek Six Sigma sambil mengerjakan tugasnya

Pilihannya tergantung kepada tujuan masing – masing perusahaan atau owner tentunya…

Source http://id.wikipedia.org/wiki/Six_Sigma

ITIL (The Information Technology Infrastructure Library)

July 28, 2009 arakattack Leave a comment

Bicara soal ITIL, eh belum sempat implementasi, tahu2 udah versi 3 sekarang… ital itil… itu apa sih?

The Information Technology Infrastructure Library (ITIL) is a set of concepts and policies for managing information technology (IT) infrastructure, development and operations.

Kalo diartikan mentah – mentah, itil itu hanya seperti dokumen – dokumen belaka, tapi tunggu dulu, ternyata itil itu adalah sistem yang mengatur tentang manajemen pelayanan IT (IT Service Management). Yang mana, IT Service Management (ITSM) is a discipline for managing information technology (IT) systems, philosophically centered on the customer’s perspective of IT’s contribution to the business. ITSM stands in deliberate contrast to technology-centered approaches to IT management and business interaction. The following represents a characteristic statement from the ITSM literature:

Providers of IT services can no longer afford to focus on technology and their internal organization, they now have to consider the quality of the services they provide and focus on the relationship with customers.[1]

Di dalam itil sendiri memiliki beberapa strategi yang paling umun diterapkan yaitu:

IT Service Delivery
o Service Level Management
o Financial Management for IT Services
o Capacity Management
o IT Service Continuity Management
o Availability Management

IT Service Support
o The Service Desk
o Incident Management
o Problem Management
o Configuration Management
o Change Management
o Release Management

Yang printilannya banyak sekali, mengenai asset management, lifecycle, helpdesk services, SLA dan sebagainya.

Intinya Layanan Manajemen adalah serangkaian organisasi kemampuan khusus untuk menyediakan nilai kepada pelanggan dalam bentuk layanan. Nah kira- kira kapan ya sertifikasi itil menjadi sangat diperlukan dalam enterprise? Lalu, apa bedanya IT dept yang bersertifikat ITIL dengan yang tidak bersertifikat?